Launching Buku di SMAN 2 Taebenu, Kadis Ambrosius Kodo Tegaskan Literasi adalah Kunci Menuju Peradaban yang Lebih Baik

Berita Sekolah91 Dilihat

Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos.,M.M. saat acara launching buku “Satu Gambar, Seribu Makna” di SMAN 2 Taebenu pada Senin (6/10/05) lalu menegaskan, literasi merupakan kunci utama untuk membawa bangsa menuju peradaban yang lebih baik.

Kadis Ambrosius dalam sambutannya untuk meluncurkan buku antologi puisi, cerpen, dan pantun karya antologi para guru dan siswa SMAN 2 Taebenu itu mengaitkan kegiatan literasi sekolah dengan gerakan yang ia gagas tahun sebelumnya, yakni Gerakan NTT Membaca dan NTT Menulis (Gerta Belis) sebagai upaya bersama untuk menumbuhkan budaya literasi di seluruh satuan pendidikan di NTT.

Kadis Ambrosius menyampaikan, membaca dan menulis adalah dua hal mendasar dalam membangun peradaban manusia sebab melalui kegiatan membaca, seseorang memperoleh pengetahuan dan memperluas wawasan, sementara melalui menulis, pengetahuan itu dibagikan kepada orang lain agar tidak berhenti pada diri sendiri. Ambrosius menilai, kebiasaan menulis akan menciptakan warisan intelektual yang berguna bagi generasi berikutnya sebab ketika pengetahuan, pengalaman, dan gagasan dituangkan dalam tulisan, maka nilai dan prestasi sebuah lembaga akan terekam dan dapat menjadi inspirasi bagi penerusnya.

Lebih lanjut Kadis Ambrosius menjelaskan, dokumentasi melalui tulisan juga menjadi cara untuk menumbuhkan semangat berprestasi dan keberlanjutan di lingkungan sekolah sehingga, jika setiap kepala sekolah menuliskan capaian dan inovasi selama masa kepemimpinannya, maka generasi berikutnya dapat melihat sejarah dan hasil kerja tersebut sebagai motivasi untuk berbuat lebih baik. Tradisi literasi seperti ini, jelas Kadis Ambrosius, akan membantu sekolah membangun identitas, kesinambungan, serta budaya reflektif yang positif.

Kadis Ambrosius juga menegaskan bahwa jika seseorang belum mampu membuat inovasi besar, ia dapat memulai dengan melakukan pembeda kecil yang bermakna sebab perubahan sederhana sekalipun dapat menjadi tanda kemajuan dan bentuk konsistensi untuk terus berkembang. Kadis Ambrosius mencontohkan, sekadar mengubah susunan pot bunga di sekolah pun dapat memberi pesan bahwa ada pergerakan menuju arah yang lebih baik.

Kadis Ambrosius lantas mengutip pemikiran tokoh John Naisbitt yang menyebut bahwa untuk dikenal dan diingat, seseorang harus berani tampil berbeda, tidak terlalu mundur hingga tertinggal, dan juga tidak terlalu maju hingga terlepas dari frame zaman, sehingga guru dan siswa perlu terus berinovasi dan meninggalkan jejak positif dalam sejarah sekolah mereka.

 

(Sumber Tulisan: NTTPos.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *