Hidup di sebuah desa terpencil, di balik bukit batu yang tinggi sebuah keluarga yang mempunyai dua orang putra. Seiring waktu berjalan, diselingi sandiwara hidup yang dilalui, sepuluh tahun hidup bersama sebagai satu keluarga yang utuh, sang istri, ibunda tercinta dari kedua anak laki-laki keluarga ini dipanggil pulang oleh sang pemilik kehidupan, mengakhiri semua penderitaannya saat masih hidup. Sebut saja keluarga Surya.
Waktu terus berjalan, mulai perlahan melupakan kesedihan kehilangan wanita terkasih dalam kehidupan keluarga ini. Di balik bukit batu, untuk sampai ke dunia perjuangan hidup, ketiga laki-laki ini terus berjuang, menapaki lereng batu, beraktivitas seperti biasanya. Sang ayah setiap hari harus menggali batu karang, mengumpulkannya, mengangkat keluar batu-batu tersebut dari balik bukit batu, untuk dijual demi memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Sang ayah tak pernah kenal lelah, meski terik matahari membakar tubuhnya yang perlahan mulai menua, ataupun dinginnya air hujan yang membuat langkahnya mulai lesuh. Namun, itu bukan halangan untuk terus berjuang demi nafas kehidupan yang masih dipercayakan sang khalik semesta. Bongkahan-bongkahan batu, terus dikumpulkan sampai waktu berlalu dan kedua putranya bertumbuh beranjak remaja. Di setiap tapak kaki memikul beban bongkahan batu, selalu ada doa dan harapan yang dinaikan secara diam-diam kepada Yang Kuasa, untuk anak-anaknya tak lagi merasakan penderitaan perjuangan hidup yang dilaluinya sekarang ini. Perihnya terik sinar matahari, ngilunya tulang tak lagi di alami kedua putranya. Kedua anaknya bersekolah seperti anak-anak lainnya, dan sudah duduk di bangku sekolah menengah atas sang kakak dan sang adik di sekolah menengah pertama.
Waktu berjalan, tanpa disadari sang ayah, sang kakak tidak lagi bersekolah, itu pun diketahui sang ayah ketika dengan semangatnya sang ayah pergi kesekolah menerima menerima hasil belajar siswa di sekolah menengah atas sang kakak. Di bawah teriknya matahari, sang ayah pulang kembali kerumah, membawa hasil belajar sang kakak, rasanya tak sanggup sang ayah melangkahkan kakinya, karena harus menerima kenyataan bahwa anaknya sudah tak lagi bersekolah. Langkahnya memikul bongkahan batu yang berat, tapi di ayun dengan penuh semangat, hari itu sang ayah hanya memegang selembar kertas, namun seakan kakinya tak mampu lagi melangkah. Tak lagi bisa dibedakan mana air keringat karena panasnya matahari, dan mana air mata yang berderai karena perasaan kecewa. Lereng bukit batu serasa tak lagi ingin dilaluinya, karena yang diharapkan tak sesuai harapan.
Waktu terus berjalan, sang ayah kembali tegar, karena masih ada haapan sang putra kedua yang nantinya enam bulan lagi aakan duduk di bangku sekolah menengah atas. Dengan penuh semangat sang ayah kembali memulihkan semangat juangnya demi sang anak laki-laki yang masih akan melanjutkan sebuah harapan dirinya. Sang ayah tanpa merasa lelah lebih bersemangat mengumpulkan rupiah-rupiah dari balik bukit batu, besar harapan yang menjadi harapan terakhirnya untuk sang putra bungsu bisa mewujudkan cita-citanya. Enam bulan berlalu, sang adik masuk ke jenjang sekolah menengah atas. Sekolah tersebut ada dibalik dua bukit gunung batu. Karena jauh sekolah sang bungsu, ayah dengan semangat gigihnya bekerja lebih keras, lebih ekstra waktu demi mengumpulkan rupiah, membeli sebuah motor bagi sang putranya. Tak terasa waktu berlalu selama enam bulan sang bungsu di sekolah menengah atas, sang ayah telah menumpulkan rupiah dan segara membelikan sebuah motor bagi putranya.
Begitu bangganya sang ayah ketika melihat putranya dengan begitu gagah, percaya diri, berangkat ke sekolah menggunakan motor harapannya. Setiap kali putranya berangkat kesekolah, selalu ada doa dan harapan yang ayah naikan demi keselamataan dan cita-citanya.
Berlalu sudah waktu dalam doa dan harapan, dan tiba waktunya sang ayah untuk kesekolah sang putra untuk menerima hasil penilaian kenaikan selama setahun. Dengan langkah tegap sang ayah berjalan kaki menelusuri liku-liku dan terjalnya jalan berbukit untuk sampai kesekolah putranya. Setibanya di sekolah, dengan percaya diri sang ayah ke bagian bendahara untuk melunasi kewajiban sang anak selama setahun bersekolah. Selesai itu sang ayah bertemu dengan guru wali kelas putranya, yang sudah menunggu ayah selesai dari sang bendahara.
Dengan ramah sang guru menyapa ayah, dan dengan hati-hati mencoba bercerita dengan ayah, karena dilihatnya sang guru, ayah bersemangat, penuh kebanggaan terhadap putrnya. Guru pun mulai bercengkrama secara perlahan menanyakan keadaan putranya di rumah. Sang guru sangat berhati-hati, karena sang ayah belum tahu, sebenarnya putranya sudah tidak bersekolah selama satu semester.
Dengan buku absen di tangan sang guru, guru pun mulai secara perlahan menjelaskan apa yang sudah terjadi selama enam bulan berlalu. Selama itu sang anak tidak lagi mengikuti pembelajaran di sekolah. Dan sang guru menjelaskan berbagai informasi yang sudah ditelusuri terkait masalah yang dihadapi sang putra.
Terasa mulai hening di antara guru dan ayah. Sang ayah tak lagi mengeluarkan suaranya lagi, ayah tertegun, diam, tanpa ada ekspresi tubuh. Sang guru tersadar, ada air mata jatuh menetes membasahi buku absen yang masih berada di tangan ayah.
Hening, sunyi, sepi, dan terasa dingin juga dirasakan sang guru. Tak sadar, sang gurupun meneteskan air mata. Entah apa yang sedang dirasakan oleh sang guru, namun kesedihan sang ayah bisa dirasakan oleh guru. Guru menjelaskan, dan mengarahkan ayah bertemu sang pimpinan. Dengan tertegun ayah menguatkan hatinya bertemu dengan sang pimpinan. Namun secara aturan harus tetap dilaksanakan bahwa putranya tetap harus dikeluarkan dari sekolah itu.
Tanpa bersuara, hanya dengan anggukan kepala, sang ayah menerima perkataan pimpinan. Langkah kaki ayah keluar ruangan, terlihat matanya berkaca-kaca, dan tak mampu menampung derainya air mata, ayah mengusap matanya dengan baju lengannya, seakan tak ingin memperlihatkan kesedihan dan kekecewaannya terhadap para guru. Langkah ayahpun membuat seketika suasana dalam ruangan menjadi sunyi sepi. Suasana keheningan seakan menyatu dengan rasa kecewa yang dirasakan sang ayah.
Seketika selepas mata memandang keluar, terlihat sang ayah berjalan menuju sebuah pohon rindang dekat sekolah. Ayah berhenti dan duduk di sebuah batu di bawah pohon. Terlihat sang ayah duduk sambil mengusap matanya menggunakan lengan bajunya. Tak tahu seberapa besar rasa kecewa sang ayah terhadap putra harapannya, tak tau seberapa dalam rasa sakit hati yang dirasakan sehingga terlihat gerkan tubuh terisak-isak mengungkapkan perasaanya kalau harapannya sudah patah, tak ada lagi harapan cita-cita kebanggaan sang ayah untuk para putranya.
Hari itu juga harus dilalui sang ayah, beberapa saat kemudian sang ayah bangun berdiri dan berjalan kembali menuju bukit-bukit kerumahnya. Sampai selepas mata memandang bayangan ayah hilang dalam pandangan dibalik bukit harapan.
*