Merajut Keharmonisan antar Intern untuk Hidup Berdamai
Oleh: Konstantinus Nu Nay
Sahabatku …
Kuulangi lagi tentang apa yang kualami.
Kenapakah terhadap sesama selalu saja ada rasa dan aura hati suram?
Untuk enderung memandang dan menilai mereka serba pekat.
Sahabatku …
Aku punya tangan dan jariku yang suka menuduh dan menghakimi
Aku punya kaki yang cenderung menekan dan menghempas keluar sesama dari lingkaran kasih dan harapan
Dan lagi aku punya mata yang cenderung tajam melihat semuanya hanya dari teropong kabur, suram, kelam serta negatif
Sahabatku ….
Tetap teringat dan terenung kata-kata yang sungguh menghantam nalar dan batinku
Mengapa sebintik noda kecil di baju pada jemuran tetanggamu dari kejauhan jelas dan tajam kau lihat, sementara sobek baju yang tengah kau kenakan sedikit pun tak kau sadar?
Sahabatku ….
Sesungguhnya proses pedagogik tangan, kaki dan mata agar dapat menggpai sesama dalam kasih pengampunan rasa penuh keakraban serta persaudaraan
Sahabatku ….
Nampaknya aku mesti mengusahakan hadirnya garam dalam diriku dai samudera kasih agar aku dapat hidup berdamai dengan sesama dalam kata-kata dan melalui sikap-sikap.
*Penulis, Konstantinus Nu Nay, S.Pd lahir di Likowali pada 28 Juni 1967. Saat ini penulis menjabat sebagai Kepala SMA Negeri 2 Taebenu
