Minta Ortu Dukung Pendidikan Anak, Kadis Ambrosius: Urusan Akhlak Sudah Harus Selesai di Rumah

Berita Sekolah113 Dilihat

Kepala Dinas (Kadis) Pendidikan dan Kebudayaan (PK) Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., saat menyampaikan sambutan untuk meluncurkan buku “Satu Gambar, Seribu Makna” di SMAN 2 Taebenu pada Senin (6/10/205) lalu menegaskan bahwa pendidikan karakter dan akhlak bukanlah tanggung jawab sekolah semata.

Kadis Ambrosius menyampaikan, sembilan puluh persen pembentukan etika dan akhlak anak berasal dari rumah, sementara sekolah hanya memperkuat dan menyempurnakan sisanya, sehingga ia meminta para orang tua tidak bersikap lepas tangan terhadap perkembangan anak-anak mereka.

“Untuk urusan karakter, akhlak, itu mesti datang dari rumah. Etika dan akhlak itu sudah selesai di rumah, sudah tuntas di rumah. Oleh karena itu, dukungan bapak mama sekalian menjadi penting. Ajar anak-anak kita untuk beretika, untuk beradab dari rumah,” tegas Kadis Ambrosius.

Kadis Ambrosius menjelaskan, sekolah hanya berperan melengkapi aspek pengetahuan dan keterampilan siswa, sedangkan fondasi utama karakter harus tertanam di lingkungan keluarga. Ia mencontohkan bahwa dunia kerja kini lebih menilai seseorang dari karakternya dibanding kecerdasan semata.

Menurut Kadis Ambrosius, kecerdasan tanpa kejujuran dan kerendahan hati justru dapat menimbulkan kerugian, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, Kadis Ambrosius mengajak para orang tua untuk menanamkan nilai-nilai moral sejak dini, seperti kejujuran, kedisiplinan, kesopanan, dan rasa hormat terhadap sesama.

Lebih lanjut, Kadis Ambrosius menegaskan pentingnya peran orang tua dalam membimbing anak-anak belajar dan berlatih sejak dini, bukan sekadar menyerahkan tanggung jawab pendidikan kepada pihak sekolah. Orang tua, tegas Ambrosius, harus hadir sebagai pendamping utama dalam pembentukan kepribadian anak. Ia juga menekankan pentingnya keluarga sebagai tempat pertama dan utama bagi anak untuk belajar tentang karakter, sehingga Ia mendorong agar anak-anak dibiasakan berinteraksi dengan lingkungan sosial, mengikuti kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan, serta belajar menghormati orang tua dan guru.

Dalam kesempatan itu, Kadis Ambrosius juga mengingatkan bahwa setiap manusia diberikan waktu yang sama, yakni 24 jam setiap hari, sehingga pemanfaatan waktu menjadi faktor penting dalam membangun masa depan. Ambrosius mengingatkan bahwa generasi muda hari ini harus disiapkan untuk menghadapi masa Indonesia Emas 2045, di mana mereka akan berada pada usia produktif.

 

(Sumber: NTTPos.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *