SMAN 2 Taebenu Punya Website, Dukung Literasi Sekolah dan Genta Belis

Berita Sekolah643 Dilihat

Pihak SMA Negeri 2 Taebenu sejak awal Oktober 2025 resmi bekerja sama dengan media NTTPos.com untuk membuat website sekolah sebagai bagian dari upaya mendukung gerakan literasi sekolah. Langkah ini sejalan dengan Gerakan NTT Membaca dan NTT Menulis (Genta Belis) yang digalakkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Pd., M.M.

Melalui kehadiran website sekolah, para guru berharap dapat memperluas akses informasi dan menjadi ruang dokumentasi karya, kegiatan, serta inovasi warga sekolah yang berfokus pada penguatan budaya literasi di lingkungan pendidikan menengah.

Keberadaan website sekolah memang sejalan dengan semangat Plt. Kepala SMAN 2 Taebenu, Konstantinus Nu Nay, S.Pd. yang meski baru sembilan bulan memimpin sekolah tetapi sudah berhasil menggeliatkan gerakan literasi sekolah.

Pada Senin (6/10/2025) lalu, SMAN 2 Taebenu telah meluncurkan buku antologi berjudul Satu Gambar, Seribu Makna, karya kolaborasi para guru dan siswa. Peluncuran buku tersebut dihadiri oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., Koordinator Pengawas SMA/SMK/SLB Kabupaten Kupang, Simon Gasang, S.Pd., MBA., Pengawas Pembina SMAN 2 Taebenu, Budyana, S.Pd., MBA., sejumlah kepala SMA di Kabupaten Kupang, pengurus Komite SMAN 2 Taebenu, aparat dan anggota BPD Desa Bokong, Bhabinkamtibmas, rohaniawan gereja setempat, serta puluhan orang tua siswa.

Kepala SMAN 2 Taebenu, Konstantinus Nu Nay menyampaikan rasa syukur karena buku tersebut dapat terbit dan diluncurkan tepat pada bulan kesembilan kepemimpinannya. Ia menjelaskan, inisiatif menulis dan menerbitkan buku itu bermula dari keprihatinannya saat mendapati perpustakaan sekolah yang relatif kosong, sehingga ia mengajak guru dan siswa untuk berkolaborasi menulis antologi puisi, cerpen, pantun, dan napak tilas SMAN 2 Taebenu.

Konstantinus menjelaskan bahwa ajakan menulis ini juga sebagai upaya mewariskan kenangan, karena kebiasaan bertutur yang umumnya hidup di tengah masyarakat kini mulai hilang, sementara budaya menulis belum ditanamkan dengan baik. Karena itu, meskipun karya-karya yang dihasilkan masih sederhana, ia merasa bangga karena buku Satu Gambar, Seribu Makna merupakan hasil karya orisinil warga sekolah.

“Walaupun sederhana, tetapi itu karya anak-anak kita sendiri, karya para guru sendiri, dan itu bisa dikenang sepanjang waktu,” ujar Konstantinus bangga.

Konstantinus menegaskan bahwa buku tersebut merupakan bagian dari program literasi sekolah yang sejalan dengan Gerakan NTT Membaca dan NTT Menulis (Genta Belis) yang digaungkan oleh Kadis Ambrosius Kodo. Buku ini menjadi pendorong semangat menulis bagi warga sekolah selama sembilan bulan pertamanya memimpin, dan ia bertekad untuk terus mendorong penerbitan karya baru di tahun mendatang.

Isi buku Satu Gambar, Seribu Makna terbilang kaya dan beragam meski hanya berjumlah kurang dari 140 halaman. Ditulis oleh 28 penulis yang terdiri dari guru dan siswa, buku ini memuat puisi, pantun, dan cerpen yang menggambarkan semangat pendidikan dan perjuangan dari daerah terpencil. Selain itu, buku ini juga mendokumentasikan napak tilas perjalanan SMAN 2 Taebenu, menampilkan foto-foto kegiatan sekolah, serta menyoroti perubahan budaya kerja di bawah kepemimpinan Konstantinus.

Secara keseluruhan, buku ini menggambarkan semangat literasi yang tumbuh dari keterbatasan, sekaligus menjadi catatan sejarah dan refleksi kolektif tentang bagaimana sekolah di pelosok mampu membangun budaya membaca dan menulis yang kuat. Buku tersebut juga menonjolkan nilai-nilai pendidikan, spiritualitas, dan budaya lokal, sehingga dapat menjadi contoh gerakan literasi sekolah berbasis partisipasi warga sekolah, bukti bahwa literasi dapat tumbuh di mana pun, bahkan di tengah keterbatasan.

Kehadiran website resmi SMAN 2 Taebenu yang dikembangkan bersama NTTPos.com kini menjadi wadah untuk memaksimalkan gerakan literasi sekolah dan Gerakan NTT Membaca dan Menulis (Genta Belis). Melalui website ini, semangat literasi yang telah tumbuh di lingkungan sekolah dapat berkembang lebih luas dan berkelanjutan, karena setiap karya guru dan siswa, dokumentasi kegiatan, serta informasi pendidikan dapat diarsipkan dan dibagikan secara digital.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *