SMAN 2 Taebenu Gelar IHT, Kadis Ambrosius Harap Jadi Momentum Refleksi Guru

Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Taebenu menggelar kegiatan In House Training (IHT) bagi para guru selama tiga hari, sejak Senin hingga Rabu, 6–8 Oktober 2025. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peluncuran buku antologi Satu Gambar, Seribu Makna” yang diluncurkan pada hari pertama IHT.

IHT menghadirkan dua narasumber utama, yakni Budyana, S.Pd., M.BA., yang membawakan materi tentang kebijakan kurikulum, KSP (Kurikulum Satuan Pendidikan), dan kegiatan kokurikuler, serta Ferdinand Wadu He, S.Pd., M.Ed., yang menyampaikan materi mengenai perencanaan, pelaksanaan, dan asesmen pembelajaran mendalam.

Dalam sambutannya saat membuka kegiatan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M., mengingatkan para guru agar menjadikan IHT sebagai momentum refleksi dan perbaikan diri dalam melaksanakan tugas pembelajaran. Ia menegaskan, IHT bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, melainkan ruang belajar bersama untuk memperbarui wawasan dan meningkatkan profesionalisme guru dalam proses kegiatan belajar mengajar (KBM).

Kadis Ambrosius berharap agar IHT membawa perubahan nyata dalam sikap dan kinerja para guru setelah kegiatan berakhir. Ia menegaskan bahwa IHT harus menjadi sarana memperkaya pengetahuan, memperluas wawasan, serta menumbuhkan semangat baru dalam menjalankan tugas pendidikan di semester berikutnya.

“Kalau sebelum IHT masih malas, setelah IHT mesti rajin. Baik, lebih baik, bae sonde bae, di Sanenu masih lebih baik daripada di Amfoang. Bapak ibu jalan kaki mungkin satu jam bisa sampai di Baumata, kalau ke Amfoang? Jadi, jangan menggerutu bagi teman guru yang sudah di sini. Saya kira ini harus disyukuri di tempat ini. Kerja dengan baik, rajin, fokus pada tugas dan pekerjaan, jangan sibuk dengan yang lain,” pinta Kadis Ambrosius.

Lebih lanjut, Kadis Ambrosius menekankan pentingnya disiplin dan tanggung jawab guru terhadap pekerjaan utama, agar tidak mudah teralihkan oleh hal-hal di luar tugas pokok, terutama aktivitas yang tidak produktif di media sosial.

“Guru jangan sibuk kritik bupati, kritik camat, tidak usah! Kalau pekerjaan kita belum beres, mari kritik diri sendiri. Ada guru yang sibuk sekali, gatal tangannya di media sosial menilai kinerja bupati segala macam, tiap hari posting di Facebook. Saya pikir ini guru ada kerja atau tidak? Saya kasi tahu kepala sekolah, dicek jam mengajarnya di kelas, jangan sampai dia tidak mengajar. Tapi itu tidak terjadi di SMA 2 Taebenu, itu terjadi di sekolah lain dan bukan di NTT. Di NTT baik-baik semua,” tekan Kadis Ambrosius.

Kegiatan IHT di SMAN 2 Taebenu menjadi momen penting bagi para guru untuk memperkuat komitmen terhadap profesionalisme dan mutu pembelajaran. Melalui IHT, diharapkan para guru mampu menghadirkan proses belajar yang lebih akomodatif terhadap kebutuhan belajar siswa, sekaligus berorientasi pada peningkatan kompetensi siswa sesuai tuntutan profil pelajar pancasila di tengah tantangan zaman.

 

Berikut adalah beberapa dokumentasi kegiatan IHT:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *